Besarnya arus modal masuk ke Indonesia, sebagai akibat pertumbuhan perekonomian yang tetap terjaga dalam beberapa tahun terakhir, harus dapat dimanfaatkan untuk mendanai proyek-proyek jangka panjang. Mengelola arus modal masuk (capital inflow) ke dalam kawasan merupakan sebuah tantangan yang sulit, yang dihadapi negara-negara emerging market seperti Indonesia karena dapat membawa berbagai risiko potensial terhadap stabilitas keuangan.
Seperti yang telah diketahui, untuk menjaga stabilitas moneter akibat derasnya arus modal masuk ke Indonesia dan besarnya likuiditas saat ini, BI menerapkan beberapa kebijakan yang diapresiasi Bank Dunia dan IMF sebagai langkah yang tepat.
Sekilas Berita tentang Arus Modal Masuk
Bank Indonesia mencatat arus modal masuk (capital inflow) sejak awal tahun hingga pertengahan November 2014 mencapai Rp177,75 triliun, jauh lebih besar dibandingkan keseluruhan 2013 sebesar Rp35,9 triliun.
"Capital inflow kali ini adalah yang terbesar dalam sejarah masuknya arus modal ke Indonesia," kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat acara Bankers Dinner di Jakarta, Kamis.
Kebijakan berorientasi stabilitas, menurut Agus, telah mempertebal keyakinan investor tentang kualitas kebijakan makro ekonomi Indonesia.
"Aliran modal masuk sendiri menjaga gairah investasi di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN)," ujar Agus.
Selain itu, lanjut Agus, persepsi risiko terhadap Indonesia di pasar keuangan dunia pun terus membaik, seperti ditunjukkan oleh Credit Default Swap yang menurun drastis, dari 303 basis poin pada Agustus 2013 menjadi 142 basis poin pada pertengahan November 2014.
Agus menambahkan bahwa tingginya arus modal masuk tersebut juga didorong oleh adanya penurunan defisit neraca transaksi berjalan.
Pada Kuartal III 2014, defisit transaksi berjalan menjadi 6,84 miliar dolar AS atau sebesar 3,07 persen dari produk domestik bruto (PDB), menurun jika dibandingkan dengan defisit pada Kuartal II 2014 ini yang sebesar 8,69 miliar dolar AS atau 4,07 persen dari PDB.
Agus memperkirakan defisit transaksi berjalan hingga akhir tahun 2014 akan mencapai 3 persen dari PDB.
Perbaikan neraca transaksi berjalan tersebut juga didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas, terutama ekspor manufaktur yang membaik.
"Capital inflow kali ini adalah yang terbesar dalam sejarah masuknya arus modal ke Indonesia," kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat acara Bankers Dinner di Jakarta, Kamis.
Kebijakan berorientasi stabilitas, menurut Agus, telah mempertebal keyakinan investor tentang kualitas kebijakan makro ekonomi Indonesia.
"Aliran modal masuk sendiri menjaga gairah investasi di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN)," ujar Agus.
Selain itu, lanjut Agus, persepsi risiko terhadap Indonesia di pasar keuangan dunia pun terus membaik, seperti ditunjukkan oleh Credit Default Swap yang menurun drastis, dari 303 basis poin pada Agustus 2013 menjadi 142 basis poin pada pertengahan November 2014.
Agus menambahkan bahwa tingginya arus modal masuk tersebut juga didorong oleh adanya penurunan defisit neraca transaksi berjalan.
Pada Kuartal III 2014, defisit transaksi berjalan menjadi 6,84 miliar dolar AS atau sebesar 3,07 persen dari produk domestik bruto (PDB), menurun jika dibandingkan dengan defisit pada Kuartal II 2014 ini yang sebesar 8,69 miliar dolar AS atau 4,07 persen dari PDB.
Agus memperkirakan defisit transaksi berjalan hingga akhir tahun 2014 akan mencapai 3 persen dari PDB.
Perbaikan neraca transaksi berjalan tersebut juga didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas, terutama ekspor manufaktur yang membaik.
http://www.klikpositif.com/news/read/14173/bi-arus-modal-masuk-sepanjang-2014-capai-rp177-75-triliun.html
Komentar
Posting Komentar